Sabtu, 03 Maret 2012

Tears

Air mata itu kelenjar yang diproduksi oleh proses lakrimasi (menangis) untuk membersihkan mata. Emosi yang kuat juga bisa menyebabkan kita menangis, walaupun kebanyakan kita (mamalia darat) memiliki sistem lakrimasi untuk membiarkan mata menjadi basah daaannn manusia adalah mamalia (?) satu-satunya yang memiliki emosi air mata.

pernah ngga Rids iseng nyobain rasanya air mata? soalnya td Oth nguap trs nyeka air mata tp abis itu ga d lap k baju, malah tak jilat :D penasaran karena rasanya asin, Oth ngubek2 rumahnya gugel nih dan nemuin fakta bahwa *jengjengjeng air mata rasanya asin karena mengandung leusinenkefalin, adrenokortikotropik, dan prolaktin serta beberapa elektrolit, protein pengikat lemak dan Imunoglobulin A yang keseluruhannya menghasilkan rasa asin #ihwaw! fungsi utama dari keseluruhannya itu menjaga kondisi mata agar tetap stabil (biar g ababil). Protein pengikat lemak membuat lapisan paling luar yang terdiri dari lapisan lemak yang fungsinya melindungi kelembaban mata tetap utuh.

selain itu fungsi dari air mata ato menangis itu selain membersihkan bola mata juga membersihkan bakteri yang terbawa oleh debu, bikin perasaan lega, membantu perbaikan mood kita, dari air mata yang dikeluarin itu juga membantu pembuangan racun (nah loh malah di jilat lagi td air matanya :D #plakk) serta mengurangi beban pikiran kita.

ada satu cerita lagi nih bahwa ketika kita menangis karena rasa takut kita akan Sang Pencipta dan rasa sesal kitaterhadap dosa yang pernah kita buat, maka kita dijanjikan pintu surga Rids! makanya kalo mau nangis, nangis aja Oth *lhoh nangis itu bukan cuma untuk cewe, cowo juga boleh nangis karena itu bukan menunjukkan kelemahan tetapi suatu kekuatan yang terpendam #eaaa

selamat mencoba #ehh
»»  lagi.. lagi..

Serat Optik 1

SERIUS INI SERIUS :D

Serat optik merupakan saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dari kaca atau plastik yang sangat halus dan lebih kecil dari sehelai rambut, dapat digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain.

Sumber cahaya yang digunakan biasanya adalah laser atau LED.

Cahaya yang ada di dalam serat optik tidak keluar karena indeks bias dari kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara, karena laser mempunyai spektrum yang sangat sempit.

Pada prinsipnya serat optik memantulkan dan membiaskan sejumlah cahaya yang merambat didalamnya.

Dengan lebar jalur (bandwidth) yang besar sehingga kemampuan dalam mentransmisikan data menjadi lebih banyak dan cepat dibandingkan dengan penggunaan kabel konvensional.

Dengan demikian serat optik sangat cocok digunakan terutama dalam aplikasi sistem telekomunikasi.

Efisiensi dari serat optik ditentukan oleh kemurnian dari bahan penyusun gelas/kaca. Semakin murni bahan gelas, semakin sedikit cahaya yang diserap oleh serat optik.

Kabel ini berdiameter lebih kurang 120 mikrometer.

Penampang Serat Optik :
- Core (inti)

- Cladding (selimut dari core) mempunyai indeks bias lebih rendah dari pada core, cladding akan memantulkan cahaya yang mengarah keluar dari core agar kembali lagi kedalam core.

- Coating (jacket dari cladding)

Dalam aplikasinya, serat optik biasanya diselubungi oleh lapisan resin yang disebut dengan jacket, biasanya berbahan plastik.

Lapisan ini dapat menambah kekuatan untuk kabel serat optik, walaupun tidak memberikan peningkatan terhadap sifat gelombang pandu optik pada kabel tersebut. Namun lapisan resin ini dapat menyerap cahaya dan mencegah kemungkinan terjadinya kebocoran cahaya yang keluar dari selubung inti.

Serta hal ini dapat juga mengurangi cakap silang (cross talk) yang mungkin terjadi.

-to be continue-
»»  lagi.. lagi..

Dewi Amor pt. 2 (end)

lanjutin ya , yg kemaren pasti ngga penasaran dong Rids :D
========================================================================

Di kantin sekolah seusai ulangan.
“Hai girls, kok mukanya pada bete gitu?” tanya Yoga. “Exam! I guess!” katanya. Kedua sahabatnya hanya mampu mengangguk, “Yeah, you`re right Yoga! Hahaha... !!! Udah dong, jangan kusut gitu mukanya. Aku traktir, mau?” bujuknya.
“No thank`s” jawab Dewi singkat.
“Ya udah, untung aja kalian nggak mau. Uang saku lebih irit, cuy!” kata Yoga. “Eh, denger – denger kamu punya penggemar ya? Siapa? Anak mana? Orangnya kayak gimana?”
“Heuh... Tanya satu – satu kenapa sih? Udah tau lagi puyeng gini!”
“Iya... Iya... Jadi, dia itu siapa?”
“Nggak tau”
“Anak mana?”
“Nggak tau”
“Yaaah, nol besar nih! Nggak tau sama sekali siapa secret admirernya”
“Namanya juga secret admirer!” timpal Sandra.
“Eh, tapi liat deh. Dia ngasih hadiah ini” sambil membuka bungkusan kecil, “Sapu tangan biru... Sama pensil? Kok pensilnya jelek gini sih!”
“Tunggu, itu `kan sapu tangan kamu Wi? Emang sebelumnya pernah kamu pinjemin?” tanya Sandra.
“Eh iya, dulu pernah aku penjemin ke...”
“Siapa? Oh iya! Kata Ujo, dia anak sini `kan?”

Pikiran Dewi tertuju pada selembar kertas yang ia dapat bersama hadiah itu. Mencoba mencari tahu siapa yang mengirim hadiah itu, tapi percuma saja. Sang secret admirer menulis tiap bait puisi dan inisialnya menggunakan ketikan komputer, sehingga tidak akan terlacak keberadaannya. Hanya satu yang menjadi informasi yakni inisial T.S. Ataukah mungkin T.S itu...
“Dewi, liat deh ke mading! Ada yang spesial buat kamu! Kayaknya sih dari penggemar kamu!” seru Echa.
“Hah? Apaan?”
“Liat aja sendiri, yuk!”
***

Di depan mading, sudah banyak yang berkumpul melihat kejutan untuk Dewi.
“Minggir – minggir!” usir Yoga.
“Permisi yah” kata Dewi.
Dan apa yang dilihatnya di papan mading benar – benar membuatnya ingin menangis. Papan sebesar itu dipenuhi dengan foto – foto Dewi dengan berbagai pose. Mulai dari fotonya saat tiba di sekolah, belajar di kelas, membaca buku di perpustakaan hingga saat makan di kantin. Dan foto dirinya ketika tersenyum, tertawa, menangis, marah sampai saat melamun pun terpampang di sana. Di setiap fotonya terlampir sebait puisi yang menusuk jantung, dan inisial T.S itu sendiri.

Firasatnya mengatakan, seseorang itu adalah dia. Dia yang pernah mengisi kekosongan hatinya, dia yang memiliki hobi dengan kamera digitalnya dan berangan menjadi seorang photographer terkenal. Dia yang saat ini sedang memperhatikannya dari jauh, dia yang ingin mendapatkan kembali cintanya.

Dewi menengok ke belakang, mencari T.S di lantai dua gedung sekolahnya. Akhirnya ia menemukan siapa dia, tatapan matanya tak lepas dari si dia di atas sana. Sadar sebentar lagi air matanya tumpah, ia segera berlari menuju kelas. Mencoba menghindar dari semua ini.
***

Sepanjang pelajaran terakhir tadi, pikiran Dewi melayang. Seolah terputar kembali saat indah bersama Tedy Saputra, mantan pacarnya. Teringat perkenalan mereka saat MOS setahun lalu, saat mereka dekat satu sama lain hingga akhirnya mereka berpacaran.

Kini, di sebuah taman dekat kota. Ia duduk sendiri di bawah pohon yang boleh dibilang sangat bersejarah. Satu tahun lalu, tepatnya 21 Februari 2007, Tedy yang sedang PDKT dengan Dewi, mengajaknya pulang bersama. Tapi bukannya mengantar Dewi sampai ke rumah, ia malah membawa Dewi ke taman dan menunjukkan satu hal yang sangat mengejutkan. Tedy menunjukkan namanya dan Dewi dalam satu bentuk hati di pohon itu. Ia menceritakan bahwa tiap pulang sekolah, ia mengukir nama mereka dengan menggunakan pensil milik Dewi yang ia pinjam. Kemudian Tedy menyatakan cintanya, dan tanpa basa – basi Dewi pun membalas cintanya.

Tapi itu hanya bertahan beberapa bulan. Tedy yang sejak awal mengatakan bahwa dirinya hobi memotret semakin sibuk dengan kegiatannya, apalagi saat ia mengikuti lomba pemotretan sebuah majalah. Waktunya habis dengan bertemankan kamera digital pemberian kakeknya hingga Dewi sering komplain dengan sikapnya. Tapi Tedi terus menjelaskan hingga Dewi bisa menerimanya, sampai akhirnya Dewi kesal dan membentak Tedy.
“Yang pacar kamu siapa sih? Aku atau kamera kakek kamu? Kok kamu lebih banyak ngabisin waktu sama dia! Kamu nggak nyadar, kalo aku di sini capek nungguin kamu!”
“Kok kamu ngomongnya gitu? Aku `kan udah berkali – kali jelasin ke kamu...” ucapnya dengan sabar.
“Tau! Tapi bukan berarti kamu bisa ingkar janji dong! Ini bukan yang pertama atau kedua kali kamu nggak nepatin janji! Ini yang ketiga, SAYANG!” ucapnya sambil menekankan kata ‘sayang’. “Sekarang kamu mau kasih alasan apa lagi?!”
“Kok kamu marah – marah gini sih! Harusnya kamu ngerti dong kenapa aku lebih banyak ngabisin waktu sama kamera ini!”
“Kurang ngerti apa lagi sih! Aku rela panas – panasan buat nemenin kamu, aku mau nungguin kamu berjam – jam, padahal belum tentu hasil fotonya bagus! Kamu tuh yang harusnya ngertiin aku! Aku `kan juga mau cuma berdua sama kamu! Tapi nggak pernah bisa, kamu selalu ingkar janji!”
“OK! Sekarang kamu maunya apa?!”
“Simpen kamera itu, dan temenin aku jalan sekarang!”
“Nggak bisa! Dua minggu lagi deadlinenya dan aku belum dapet gambar yang bagus! Gara – gara kamu juga sih! Dikit – dikit panas! Terus laper! Banyak maunya!”
“Oh, jadi sekarang kamu nyalahin aku! Bagus banget! Aku juga capek makan hati terus kayak gini! Pacaran aja sama kamera!”
“OK! Aku bisa leluasa cari gambar dan kamu nggak perlu repot – repot sama urusanku!” kata Tedy.

Dewi kaget dan terdiam sejenak. Berusaha meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang bermimpi. Dan ini memang bukan mimpi. Dewi menghela napas, menegakkan badan, menatap sepasang mata yang sedang menanti kata apa yang akan terucap.
“Yah, mungkin memang ini lebih baik. Kamu nggak perlu bawa aku dan mikirin aku waktu cari gambar. Maaf kalo aku ngerepotin kamu, makasih udah pernah sayang sama aku...” ucapnya lirih.

Perpisahan mereka sudah berjalan selama tiga bulan ini. Tak terasa air matanya membasahi pipi, Dewi beranjak dari duduknya. Saat melangkahkan kaki, tangan kanannya di tarik oleh seseorang. Dewi membalikkan badan, dan melihat sosok itu. Tedy. Ia menarik tangan Dewi mendekati kursi taman, mengajaknya duduk dan menyeka air matanya dengan sapu tangan yang berada digenggamannya.
“Maafin aku...” ucap Tedy. “Aku nyakitin perasaan kamu” lanjutnya. “Aku baru sadar, kalau ternyata cuma kamu yang bisa ngertiin aku. Cuma kamu yang selalu ada buat aku. Dan memang cuma kamu yang aku mau, kamu yang aku cinta. Aku kehilangan kamu, Dewi...”
Dewi hanya terdiam. Ingin sekali ia memeluk Tedy, tapi tubuhnya membeku.
“Aku mau pulang” kata Dewi singkat.
“Aku anter ya?”
“Nggak usah, makasih”

Ia pun berdiri, berjalan pergi meninggalkan Tedy sendiri. Dalam hatinya berharap Tedy akan memanggilnya dan mengucap kata sayang padanya. Ia mulai berhitung dalam hati. Satu... Dua... Tiga...
“Aku minta maaf Dewi! Aku masih sayang kamu! Aku mau kita balikan lagi kayak dulu!” Tedy berteriak.
Hmphhh... Dewi berhenti, akhirnya kata itu terucap juga. Ia membalikkan badannya, melihat Tedy yang masih memegang sapu tangannya. Ia tersenyum, begitu juga Tedy yang perlahan menghampirinya. Tedy meraih kedua tangannya, kemudian membacakan sebait puisi yang sangat indah.

Kau hadir sebagai cinta, Dewi
Kau ada `tuk lengkapi hati, mewarnai hari
Kau beri senyum terindah kini
Kau hadir sebagai cinta, Dewi
Cinta yang selalu bersemi dihati

Dan mereka pun kembali merajut benang cinta yang pernah terputus. Dewi Amor, yang dalam bahasa Yunani berarti Dewi Cinta, kini mendapatkan cintanya yang pernah hilang.

~ The End ~
Clp, 22 Nov `08

Hadeuh, picisan banget ga sih Rids? ini cerita Oth bikin waktu ada lomba dari salah satu majalah ngga terkenal dari kota ngga keliatan, temanya tentang cinta karena masa2 ababil ini kata yang bikin lomba tuh lagi seru2nya d SMA -,-

dibimbing sama guru yang yahh~ gimana yaa~ yaa gitu deh, anyway thanks bwt tu guru :) u r still a teacher that taught me something
»»  lagi.. lagi..

dancing on the paper ..

dear ants..














what are you doing now?
still putting crumbs on my room..
don't you feel tired?
or got pressure when i blow on you..

such a shame, being me..
i am a human but can't stand for my winds..
only complaints in every breath that i take..
blaming others..

it's late night, cold and rain..
congrats..
u won, ants!
keep silent and let me drowned in regret..

-Cilacap, 030312 / 01.54am-
»»  lagi.. lagi..

Jumat, 02 Maret 2012

Dewi Amor pt. 1

anyong Rids! olenmanieyo ya kita ga ketemu :D berasa 24jam7hari itu kurang buat ngejalanin kehidupan kemaren -,- nah ini nih skrh Oth lg pengen share lagi sama kalian, pas lagi liat2 bahan eh ada materi ini *aww
    sebenernya ini ga sengaja nemu di tumpukkan file jaman baheula waktu Oth masi imut2 #ignoreplease, setelah dibaca ulang kok ini kayaknya cerita 4l4y beudh sangadh dan ini jenis cerita yg uda kebaca banget endingnya. tapi yabodo amat, daripada makin lapuk kan mending ditaro sini kali aja ada yg lewat trs baca trs ngejek kan lumayan :D
    =============================================================================

    Siapa yang tidak mengenal Dewi? Siswi cerdas dan cantik itu dijuluki sebagai Dewi Cinta yang gemar menjodohkan temannya. Bukan hanya Yoga – Ayu, Reno – Putri, Beni – Tya serta Andi – Vita, tapi beberapa pasangan kekasih di SMA Bina Bangsa ini merupakan hasil perjodohannya.

    Berawal dari keisengannya menjodohkan Yoga, sahabatnya sejak kecil, dengan Ayu yang pendiam, setahun lalu. Kemudian ia mencoba menjodohkan lagi sahabatnya, Sandra dengan Kak Adit, senior mereka. Dan Raka, teman sekelas Yoga yang meminta Dewi untuk mencarikannya pacar. Ide gilanya pun muncul, ia berusaha mendekatkan Raka dengan Angel, cewek blasteran Belanda yang sekelas dengannya. Mulanya agak susah karena bahasa Inggris Raka berantakan, sedangkan Angel pun belum lancar berbahasa Indonesia. Cinta memang butuh pengorbanan, Raka mati – matian belajar bahasa Inggris untuk menggaet Angel, and it`s work! Dua bulan kemudian mereka resmi berpacaran, walaupun seringkali misscomunication tapi cinta tetap menyatukan mereka.

    Tapi Sang Dewi Cinta belum mempunyai kekasih. Tiga bulan lalu ia menyandang gelar jomblo. Banyak yang mengatakan, “Katanya Dewi Cinta, kok jomblo sih?”. Tapi statusnya tidak membuatnya malas berurusan dengan laki – laki, terutama kegemaran menjodohkan teman – temannya.
    ***

    Hari ini matahari bersinar dengan cerahnya, kicauan burung pun nyaring terdengar. Tidak seperti biasanya, kali ini Dewi bangun lebih awal, sarapan lebih awal dan berangkat sekolah lebih awal. Hal ini membuat Sandra heran dengan sifat sahabatnya yang satu ini.
    “Wi, kamu nggak apa – apa `kan?” tanya Sandra sambil memegang kening Dewi.
    “Nggak apa – apa, emangnya ada yang aneh?” Dewi balik bertanya sambil memperhatikan penampilannya.
    “Banget! Tumben kamu jemput?” katanya. “Ya udah, forget it. Kamu yang ngendarain motor yah” perintahnya sambil memberikan kunci motor pada Dewi.
    Begitu menerima kunci, Dewi langsung tancap gas menuju sekolah.
    ***

    Sesampainya di sekolah, Dewi berjalan cepat sambil menggandeng Sandra. Ketika tiba di depan kelas, Dewi mendapati semua temannya mengerubungi mejanya.
    “Pagi guys! Ada apa nih, kok pada ngumpul di mejaku?”
    “Ciee... Yang punya penggemar... Dikirimin apa lagi tuh?” kata Echa.
    “Apaan sih? Emang sejak kapan aku punya penggemar? Terus, itu yang di meja barangnya siapa?” tanyanya keheranan.
    “Kamu pikir kita nggak tau? Akhir – akhir ini kamu dikasih kado melulu `kan? Tuh yang nangkring di meja udah dari tadi pagi. Tanya aja Ujo, dia yang pertama ngeliat barang itu” jawab Echa.
    “Bener Jo?”
    “Iya tadi pagi waktu aku dateng, ada cowok pake topi item bawa barang itu ke kelas. Terus keluar sambil lari, kayaknya sih anak sini. Seragamnya aja sama kayak kita!” jelas Ujo.
    “Bener, belakangan ini kamu dikasih hadiah spesial?” selidik Sandra.
    “Iya...”
    “Kok kamu nggak cerita sih?” tanyanya lagi.
    “Abis, aku pikir itu hadiah dari anak – anak yang kemarin aku comblangin. Soalnya ada yang salah satunya dari Meta, tanda terima kasih gitu... `Kan udah jadian sama Kak Rangga”
    “Emang hadiah yang lain ada namanya?”
    “Nggak sih...”
    “Yaaah, ampun deh! Ya udah semuanya bubar, kayak lagi sidang aja dikerubutin gini!”

    Tak lama kemudian bel masuk berdering. Pelajaran pertama adalah Matematika, dengan guru pengajar Bu Mia. Dan bunyi hak sepatu yang tingginya mencapai 10 cm itu kian terdengar, hentakannya yang keras seolah membawa kabar buruk. Perasaan tak menentu menyelimuti seisi kelas menghadapi guru killer itu, takut mimpi buruk akan terjadi. Lalu sosok itu berjalan memasuki kelas, mendekati mejanya. Dan...
    “Simpan semua buku ke dalam tas! Hanya alat tulis yang ada di atas meja! Hari ini kita U - LA - NGAN!!”
    “Haaaaaaah...!!!” sontak seisi kelas kaget.
    ***

    gimana Rids? STOP! gausa jawab! Oth uda tau tanggepan kalian T.T alambuh pokoknya tar besok Oth lanjutin :D daripada kentang ya gaaa :O
    »»  lagi.. lagi..